DewiRakhma^Psy Weblog

March 27, 2008

Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran

Rakhmawati, dewi. 2007. Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran (Bab II). Makalah tidak diterbitkan. Malang: Masjidil ‘Ilm Bani Hasyim

 Sekolah Islam memang menggeliat belakangan ini. Lembaga pendidikan ini tidak lagi dipandang sebelah mata, sebagai lembaga yang kolot dan ‘puritan’. Maraknya para orang tua menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Islam belakangan ini, menurut pakar pendidikan yang juga mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional Prof DR Hidayat Syarif merupakan fenomena yang sangat positif. ”Ini fenomena yang bagus. Dulu, sekolah sekolah ini tidak mampu bersaing,” jelas Hidayat. Menurut mantan Deputi Sumber Daya Manusia (SDM) Bappenas ini, sekolah-sekolah Islam selain mengutamakan mata pelajaran umum yang sesuai dengan kurikulum Diknas, juga ditambah dengan mata pelajaran agama. Lebih khusus lagi, kata Hidayat, adalah pada penanaman moral, pendidikan akhlak.

Alasan serupa dikemukakan psikolog dan pemerhati pendidikan anak, Seto Mulyadi. Menurut Kak Seto, belakangan ini banyak lembaga pendidikan Islam yang telah meningkatkan kualitasnya dengan mengadopsi beberapa model atau kurikulum dari luar negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat dan lainnya. ”Semua baik, tapi yang penting harus dilakukan dengan prinsip for the best interest of the child (demi kepentingan terbaik bagi anak), bukan bagi orang tua, guru, yayasan, dan sebagainya,” jelasnya. Penulis setuju dengan pendapat Kak Seto, sumber informasi terpenting adalah dari sisi anak. Sekolah yang baik adalah baik menurut anak bukan baik menurut iklan. Pertanyaan mendasar adalah coba anak boleh melihat, mencoba, pada saat pendaftaran itu ada suasana untuk percobaan dan sebagainya lalu tanyakan kepada anak. Menurut dia bagaimana, enak nggak di sekolah itu? Kalau dia suka silahkan didaftarkan. Orangtua jangan memilih sekolah hanya karena prestise.

Sekolah Islam sebaiknya tidak mengajarkan ajaran-ajaran Islam dalam hanya sekadar dari sudut pandang orang tua. Misalnya orang tua nanti kalau berbuat ini dosa, kalau mengerjakan ini nanti masuk sorga. Jadi, akhirnya anak jadi objek untuk ambisi orang tua. Sejak dini anak memang harus dibekali dengan pendidikan agama, namun harus melihat metode yang dipakai. ”Pengajarannya bagaimana? Jangan lembaga Islam metode pembelajarannya dengan kekerasan sehingga membuat anak malah takut dengan agama. Mereka bisa anti produktif, tapi kalau Islam diajarkan dengan bernyanyi, dongeng, boneka, kegiatan bermain di taman yang menyenangkan, gurunya ramah, itu Islam akan sangat muncul dengan efektif pada diri anak.

Metode pembelajaran merupakan kunci utama berhasilnya sebuah pendidikan. ”Ada sekolah Islam yang metodenya menyenangkan tapi tidak sedikit sekolah Islam yang metodenya kurang menyenangkan. Ini yang sangat disayangkan, akan memberikan gambaran yang keliru terhadap Islam.” Anak pra sekolah, misalnya, belum saatnya dia ditakut-takuti kalau bolos, atau malas nanti masuk neraka. Anak-anak usia begini seharusnya dikenalkan bahwa Islam itu indah, sabar, kasih sayang, dan diberikan contoh konkret,” ujarnya. Yang tak kalah pentingnya, papar Kak Seto lebih lanjut, peran orang tua dalam membimbing anak. Apalagi, seorang anak justru akan lebih lama bersama orang tuanya ketimbang guru. ”Orang tua harus menyadari bahwa pendidik yang paling utama adalah orang tuanya sendiri. Jadi, orang tua harus memainkan peranan penting terhadap pendidikan anak. Dimulai dengan keteladanan atau contoh, jangan menyuruh anak shalat tapi anak tidak shalat. Jangan menyuruh kepada anak kalau dari orang tuanya tidak ada keteladanan yang konkrit dari orang tuanya.” Yang penting, kata Kak Seto, penekanannya bukan sekadar hablumminallah tapi hablum minannaas. ”Kita memberikan kepada mereka bahwa ajaran Islam itu baik hati,” ujarnya. Di rumah, hal itu bisa ditunjukkan oleh orang tua kepada anak. Ketika setelah shalat, misalnya, orang tua mendongeng bagi anak, bukan mengomel. ”Dari situ ada asosiasi antara perilaku shalat dan kasih sayang ataupun suasana kehangatan emosional ibunya yang dirasakan sekali terhadap anak,” ujarnya.

Islam sebagai rahmatan lil alamin sudah sewajarnya menerapkan apa yang dilakukan oleh Nabi di atas. Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Jika anak sejak dini telah
mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orangtua. Kekerasan sangat jauh dari nilai-nilai Islam, Islam mengajarkan kasih sayang, kepada yang di luar Islam harus saling menyayangi, apalagi kepada sesama muslim, sampai-sampai dikatakan bahwa sesama muslim laksana satu tubuh, jika ada bagian yang sakit maka sakitnya akan dirasakan oleh bagian tubuh yang lain.

Usia pra sekolah yang berlangsung pada usia 3-6 tahun menurut Erik H. Erickson, seorang tokoh psikoanalisis, memiliki dorongan yang kuat untuk menguasai lingkungan. Krisis yang dialami adalah autonomy vs shame/doubt. Jika dia berhasil dalam tahap berkembangan ini maka akan menjadi anak yang mandiri, namun jika gagal maka akan merasa malu dan ragu-ragu.

Tugas guru pra sekolah adalah senantiasa secara kreatif menggunakan metode pembelajaran yang sesuai untuk membuat anak-anak menjadi otonom. Apapun itu metodenya, mendongeng, bernyanyi, yang penting dilakukan dengan menyenangkan. Bagaimana kita bisa membangun kontrol diri sebagai wujud kemandirian. Seperti metode yang digunakan oleh Erik H. Erikson dalam mendidik anak-anak yaitu metode Montessori adalah metode yang menekankan perkembangan inisiatif anak melalui permainan dan pekerjaan.

 

About these ads

24 Comments »

  1. mari perbaiki generasi
    lewat pendidikan yang lebih islami

    Comment by achoey sang khilaf — March 27, 2008 @ 3:06 am

  2. Kuserahkan hal2 mengenai psikologi kepadamu Wi ;)
    Daku tak sanggup lagi mengingat2 materi2 kuliah dulu…
    Yang jelas, Agama jelas harus jadi basic dalam pendidikan. Patokan tiang iman buat ke depannya.

    Comment by Menik — March 27, 2008 @ 10:16 am

  3. Keluarga yang nomer satu!

    Comment by kelepon — March 28, 2008 @ 2:38 pm

  4. Pendidikan Islam dan Islami yang terpenting!

    Comment by rivafauziah — March 28, 2008 @ 7:47 pm

  5. nice post. Shahabat Umar RA, Bilal RA, Abu Bakar RA dll, belajar lewat pengorbanan dijalan Allah sehingga Allah memberikan mereka Akhlak yang baik, selalu dekat dengan orang2 shaleh dan menjaga amalan2 yg di lakukan Rasulullah SAW

    Comment by nexlaip — March 29, 2008 @ 5:32 am

  6. suasana kehangatan emosional seorang ibu itu seperti apasih?

    Comment by 311thoth — April 3, 2008 @ 9:20 am

  7. ini guru ya….
    lam kenal ya…
    inibloger baru yang butuh temen..
    ohya aku puya pandangan tentang dunia pendidika..
    bahkan aku sempatpenen buat penelitian tentan ini, tapi berhenti karena terbentur waktu untuk kuliah..

    dimataku sistem pendidikan di Indonesia sudah harus dirombak total, tapi perlahan2 jua oleh…
    sistem saat ini masih terpengarus oleh sistem pendidikan orde baru…
    dimana sistem ini membiasakan siswa untuk didikte…

    siswa tidak dibiarkan berkemang sendiri, sehinga anyak siswa yang gak berani berpendapat….
    contohnya adalah temen2 kuliah ku sekarang..
    kebanyakan dari mereka adalah korban sistem pendidikan orde baru…
    mereka punya banyak ide bagus tetapi gak berani mengungkapkannya..
    sistem baru seperti KBK da sejenisnya juga belum berbuat banya,,,

    jadi klo guru2 mau berinovasi lebih pasti bangsa ini cepat maju..

    yang jelas untuk para ur…
    mohon… kembangkan keberanian siswa untuk menjadi orang yang kritis….
    bukan orang yag selalu meng iyakan kata2 orag yang lebih tinggi darinya..

    semoga ada manfaatnya amin…

    hehehe..
    aku bisa serius juga ya…..-

    Comment by myviolet — April 3, 2008 @ 9:47 am

  8. Tugas Guru?

    Comment by rivafauziah — April 5, 2008 @ 4:14 am

  9. nyokkk , kita semua bekerja sama memmperbaiki generasi bangsa ini

    Comment by realylife — April 5, 2008 @ 11:22 am

  10. nyokkk..
    mas kelepon..benar keluarga is number one
    mbk riva: tugas guru pendidik no.2 setelah keluarga.ok

    Comment by dewisang — April 13, 2008 @ 5:55 am

  11. Assalamualaikum Dewi,
    Im Ryzals, from Malaysia. Accidental when im surf in net to find some info, i found ure blog. My comment is im impress with ure blog. Its is imformative and valueable. This is another way of dakwah right. So, keep it up.
    Im a educational management and leadership lecturer. Kindly if we can keep ure contact each other, maybe a lots of expirience, knowledge we can share eventhough we are from diferent country.
    Regards,
    Ryzal.

    Comment by Ryzals — April 23, 2008 @ 1:50 am

  12. waalaikumsalam Ryzal,
    very nice to c u, our brother moslem. tengkyu 4 visiting. hope we’ll keep in contact to share ’bout education
    warm regard,
    me–dewisang

    Comment by dewisang — April 23, 2008 @ 5:07 pm

  13. Assalamualaikum Dewi,
    Thanks for ure response.
    Just ask one or two question…how do i upload my pic ?.
    How do i upload any article etc.

    Looking forward to knoe u more.

    Regads,
    Ryzal.

    Comment by Ryzals — April 24, 2008 @ 8:51 am

  14. waalaikumsalam
    *for ur pic, u must sign up my bloglog or u must have blog, have u?
    *articles: just copying
    hope, we’ll meet in email/chat
    txs alot …

    Comment by dewisang — April 27, 2008 @ 1:19 am

  15. Assalamualaikum Dewi,
    Im quite bussy this few days. Meetings, Discussion and tomorw (8 May) im going to attend the PhD interview. Just surfing ure site before im continue to finish my PhD proposal for interview tomorow. Err..boleh doakan agar saya berjaya yaa…hehehe..
    walaupun kita tidak kenal lagi….. About email to contact, yeah i think its good. I give u my personal email and u can email me ure adress through this ok : ammiab@yahoo.com.
    Maybe we can know each other details etc.
    Keep smart in work
    Best Regard,
    Ryzal.

    dewisang,
    waalaikumsalam Pak Ryzal,
    sorry….iam late to reply ur comment, i think it missed. good luck for ur PhD, get succes

    Comment by Ryzals — May 7, 2008 @ 12:59 am

  16. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Senang juga ketemu dengan guru, apalagi dengan Sekolah Model Bani Hasyim. Oh..ya kalo berkenan dengan tambahan literasi pendidikan dan anak, main aja ke gubukku.
    Salam dengan Bu Zahro ya. Makasih :)

    waalaikumsalam wr wb
    temennya b.zahro ya..insya Alloh saya sampaikan. ok sy liahat gubugnya..

    Comment by Sismanto — June 2, 2008 @ 5:15 am

  17. sekolah dengan model pendidikan Islam yang berkualitas emang banyak yg mahal. tau ah gue kagak ngerti kenapa ? yang penting menurut aku adalah kemauan keras untuk maju. Menurut aku ya… gimana anak-anak yang gak mampu bisa sekolah di sekolah islam yang bagus. coba buat sekolah yang bagus tapi terjangkau.. mungkin solusinya gitu

    dewisang,
    ya sepakat, itu adalah PR utk dunia pendidikan kita, bagaimana semua kalangan bisa merasakan pendidikan berkualitas. Bagaimana kita bisa mengulang masa emas Peradaban Islam, di Bagdad pas pemerintahan Harun Al-Rasyid. Islam waktu itu menjadi megapolitan, no.1 dalam hal apapun, ekonomi, science, seni, pendidikan. Sedangkan ERopa, Amerika masih berupa kampung kumuh, masih berada pada masa DARK AGES.Bangga ya…waktu itu pendidikan gratis, bahkan buku2 dibagikan gratis, ga’ ada anak yg buta huruf, ilmuwan benar2 dijamin hidupnya, hidup sejahtera (buku IMPERIUM III karangan Eko Laksono). Tentu hanya bisa terjwujud jika negara benar2 makmur. Semoga peradaban itu sempat kita ulang with hard work n pray.

    Comment by mukhlisin — July 15, 2008 @ 3:09 am

  18. mau tanya nech
    sebagai guru salah satu masalah yang dihadapi adalah sulit mengendalikan siswa untuk konsentrasi,maksudnya siswa selalu ramai tetapi yang dibicarakan bukan soal pelajaran.tolong dibantu bagaimana cara mengatasinya menurut cara pandang Islam?

    dewisang said,
    sebelumnya saya mohon maaf, saya tidak bisa memberikan berdasarkan sudut pandang Islam, tp akan saya coba menjawab sesuai latar belakang pendidikan saya yg saya lebih paham ttg hal itu. Ibu guru apa ya? saya anggap kelas besar aja ya bu. Pertama mungkin yang perlu kita ketahui adalah kenapa mereka sampai rame? apakah krn sudah selesai?mungkin tugas terlalu mudah, jd perlu diberikan variannya. Ato bosan dg cara guru mengajar mungkin, kita sbg guru dituntut utk kreatif, harus menarik. Klo metode ceramah bikin mereka ramai, mungkin perlu metode yg lain. Anak sekarang lebih “sulit” memang, tp klo kita menyadari hal itu dan menjadikannya sbg tantangan, mereka ada lah titipan yg hrs dijaga, Insya Alloh bikin kita lebih sabar. Klopun mereka tetap ramai mungkin mereka sedang butuh utk istirahat, biarkan saja, beri waktu beberapa menit, dengan kesepakatan tentunya. Melibatkan anak2, tidak otoriter, akan membuat mereka merasa dihargai, akhirnya mereka akan sadar. KLopun ga’ sadar ya kita doakan aja semoga cepat sadar, krn kita ga’ bisa memaksa anak utk berubah, biarkan mereka mencari diri mereka dg cara mereka, kita haya fasilitator. Klo kita merasa kita hrs merubah, dikhawatirkan cara2 otoriter bahkan kekerasan akan terjadi, mungkin dengan cara itu mereka bisa nurut, tp ga’ akan bertahan lama, karena cuma karena takut. Biarkan mereka tumbuh dengan caranya sendiri aja, kita fasilitator aja. Kita aja sbg guru yg terus memperbaiki, krn kita ga’ akan bisa merubah orang lain, tp klo merubah diri Insya Alloh bisa. Guru “gaul” itu sekarang yg bisa diterima anak2, kita hrs bisa jadi teman. Itu aja ya ibu, mohon maaf jika ada yg kurang berkenan. Mungkin ada yg perlu didiskusian, dengan senang hati, melalui imel jg gpp ibu.

    Comment by anik dwi — August 14, 2008 @ 4:53 am

  19. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    Comment by Qinimain Zain — October 2, 2008 @ 1:17 am

  20. sebagai pengajar saya kagum dengan para guru lain dan pengajar lain yang cenderung setuju jika hukuman atau ganjaran (reward and punishment) tidak dikedepankan dalam mendidik siswa atau peserta didik. namun lain halnya jika ini sudah menjadi tradisi dan budaya seperti yang terjadi di belahan timur indonesia, (Maluku, Tusa Tenggara, Papua, dll)yang karena latar belakang sejarah dan faktor budaya yang mendukung untuk hidup ‘keras’ maka hukuman dalam bentuk fisik selalu menjadi slogan utama di setiap lembaga pendidikan…, (yg penting hasilnya tidak cacat saja), dan bahkan orang tua, lingkungan mendukung hal ini….
    dan mungkin ada benarnya bahwa kekerasan harus diakhiri dengan kekerasan?

    dewisang,
    itu merupakan metode behavioris dalam memodivikasi PL. Cukup diberi hukuman atau reward maka perilaku yang tidak diinginkan bisa berkurang atau perilaku yang diinginkan menjadi kuat. Boleh saja menggunakan metode ini, tapi, perlu dievaluasi terus seberapa efektif metode tersebut dan apakah sesuai dengan perilaku yang yang ingin diextinction-kan. Kita harus terus evaluasi agar anak tdk selalu mengharapkan reward, klo tidak ada reward maka perilaku akan kembali lagi. Reward secara berkala dikurangi sehingga ketika dihentikan, PL akan menetap dan anak tidak mengahrapkan reward lagi, klo terus direward bisa bangkrut kita.
    Mengenai
    punishment fisik yang belakangan ini marak, klo jaman dulu, orang tua malah mendukung anaknya dipukul di skeolah, klo sekarang dicubit aja bisa lapor polisi, gmn tuh, apa pendapat anda?

    Comment by pak de — January 13, 2009 @ 3:00 am

  21. latar belakang pendidikan orang tua, khususnya pasangan muda sudahlah tidak diragukan lagi. tapi masak gara-gara dicubit lapor polisi, pasti ada yang lebih bijak lagi. atau ke polisi karena urusan lain kali yee

    dewisang,
    ke kantor polisi karena KDRT kali”

    Comment by azzah — January 31, 2009 @ 8:47 pm

  22. bunda dewi sang, mau nanya nih, kalau ada anak usia 4 tahun tapi kemampuan secara keseluruhan masih seperti anak 3 tahun. apa yang harus dilakukan pihak sekolah? sementara orang tua menginginkan anaknya belajar dan bergaul dengan teman yang lain. tapi anaknya tangannya teramat usil, begitu cepat menarik rambut teman. gimana solusinya. makasih.kalau mau chat atau via hp dengan dewisang langsung bisa?no?

    dewisang,
    perlkaukan mereka apa adanya, pahami, dan sabar. pelan-pelan pasti kan ada hasilnya asal kita tulus dan tau sebab mengapa mereka seperti itu. SEMANGATTT

    Comment by azzah — January 31, 2009 @ 8:51 pm

  23. Keren banyak pengalaman yang sangat saya butuhkan saaat ini.Nah share pengalaman seperti inilah yang saya inginkan.saya seorang yang baru belajar untuk mengajar Playgroup tapi baru secara otodidak,samasekali belum pernah dapat Pendidikan sbg Guru secara formal.Lanjutkan n Tetap semangat Meningkatkan Pendidikan Untuk Anak2

    Comment by yuli — April 11, 2009 @ 11:15 am

  24. tolong carikan hadits tentang metode pembelajaran rasulllah yang mengutus mu’adz bin jabbal ke negeri yaman

    Comment by dhieta — May 28, 2009 @ 1:28 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: