DewiRakhma^Psy Weblog

Cinta yang mendalam menebarkan energi positif yang tidak hanya mengubah hidup seseorang, tetapi juga menerangi kehidupan orang banyak (Kompas)

Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran March 27, 2008

Rakhmawati, dewi. 2007. Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran (Bab II). Makalah tidak diterbitkan. Malang: Masjidil ‘Ilm Bani Hasyim

 Sekolah Islam memang menggeliat belakangan ini. Lembaga pendidikan ini tidak lagi dipandang sebelah mata, sebagai lembaga yang kolot dan ‘puritan’. Maraknya para orang tua menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Islam belakangan ini, menurut pakar pendidikan yang juga mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional Prof DR Hidayat Syarif merupakan fenomena yang sangat positif. ”Ini fenomena yang bagus. Dulu, sekolah sekolah ini tidak mampu bersaing,” jelas Hidayat. Menurut mantan Deputi Sumber Daya Manusia (SDM) Bappenas ini, sekolah-sekolah Islam selain mengutamakan mata pelajaran umum yang sesuai dengan kurikulum Diknas, juga ditambah dengan mata pelajaran agama. Lebih khusus lagi, kata Hidayat, adalah pada penanaman moral, pendidikan akhlak.

Alasan serupa dikemukakan psikolog dan pemerhati pendidikan anak, Seto Mulyadi. Menurut Kak Seto, belakangan ini banyak lembaga pendidikan Islam yang telah meningkatkan kualitasnya dengan mengadopsi beberapa model atau kurikulum dari luar negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat dan lainnya. ”Semua baik, tapi yang penting harus dilakukan dengan prinsip for the best interest of the child (demi kepentingan terbaik bagi anak), bukan bagi orang tua, guru, yayasan, dan sebagainya,” jelasnya. Penulis setuju dengan pendapat Kak Seto, sumber informasi terpenting adalah dari sisi anak. Sekolah yang baik adalah baik menurut anak bukan baik menurut iklan. Pertanyaan mendasar adalah coba anak boleh melihat, mencoba, pada saat pendaftaran itu ada suasana untuk percobaan dan sebagainya lalu tanyakan kepada anak. Menurut dia bagaimana, enak nggak di sekolah itu? Kalau dia suka silahkan didaftarkan. Orangtua jangan memilih sekolah hanya karena prestise.

Sekolah Islam sebaiknya tidak mengajarkan ajaran-ajaran Islam dalam hanya sekadar dari sudut pandang orang tua. Misalnya orang tua nanti kalau berbuat ini dosa, kalau mengerjakan ini nanti masuk sorga. Jadi, akhirnya anak jadi objek untuk ambisi orang tua. Sejak dini anak memang harus dibekali dengan pendidikan agama, namun harus melihat metode yang dipakai. ”Pengajarannya bagaimana? Jangan lembaga Islam metode pembelajarannya dengan kekerasan sehingga membuat anak malah takut dengan agama. Mereka bisa anti produktif, tapi kalau Islam diajarkan dengan bernyanyi, dongeng, boneka, kegiatan bermain di taman yang menyenangkan, gurunya ramah, itu Islam akan sangat muncul dengan efektif pada diri anak.

Metode pembelajaran merupakan kunci utama berhasilnya sebuah pendidikan. ”Ada sekolah Islam yang metodenya menyenangkan tapi tidak sedikit sekolah Islam yang metodenya kurang menyenangkan. Ini yang sangat disayangkan, akan memberikan gambaran yang keliru terhadap Islam.” Anak pra sekolah, misalnya, belum saatnya dia ditakut-takuti kalau bolos, atau malas nanti masuk neraka. Anak-anak usia begini seharusnya dikenalkan bahwa Islam itu indah, sabar, kasih sayang, dan diberikan contoh konkret,” ujarnya. Yang tak kalah pentingnya, papar Kak Seto lebih lanjut, peran orang tua dalam membimbing anak. Apalagi, seorang anak justru akan lebih lama bersama orang tuanya ketimbang guru. ”Orang tua harus menyadari bahwa pendidik yang paling utama adalah orang tuanya sendiri. Jadi, orang tua harus memainkan peranan penting terhadap pendidikan anak. Dimulai dengan keteladanan atau contoh, jangan menyuruh anak shalat tapi anak tidak shalat. Jangan menyuruh kepada anak kalau dari orang tuanya tidak ada keteladanan yang konkrit dari orang tuanya.” Yang penting, kata Kak Seto, penekanannya bukan sekadar hablumminallah tapi hablum minannaas. ”Kita memberikan kepada mereka bahwa ajaran Islam itu baik hati,” ujarnya. Di rumah, hal itu bisa ditunjukkan oleh orang tua kepada anak. Ketika setelah shalat, misalnya, orang tua mendongeng bagi anak, bukan mengomel. ”Dari situ ada asosiasi antara perilaku shalat dan kasih sayang ataupun suasana kehangatan emosional ibunya yang dirasakan sekali terhadap anak,” ujarnya.

Islam sebagai rahmatan lil alamin sudah sewajarnya menerapkan apa yang dilakukan oleh Nabi di atas. Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Jika anak sejak dini telah
mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orangtua. Kekerasan sangat jauh dari nilai-nilai Islam, Islam mengajarkan kasih sayang, kepada yang di luar Islam harus saling menyayangi, apalagi kepada sesama muslim, sampai-sampai dikatakan bahwa sesama muslim laksana satu tubuh, jika ada bagian yang sakit maka sakitnya akan dirasakan oleh bagian tubuh yang lain.

Usia pra sekolah yang berlangsung pada usia 3-6 tahun menurut Erik H. Erickson, seorang tokoh psikoanalisis, memiliki dorongan yang kuat untuk menguasai lingkungan. Krisis yang dialami adalah autonomy vs shame/doubt. Jika dia berhasil dalam tahap berkembangan ini maka akan menjadi anak yang mandiri, namun jika gagal maka akan merasa malu dan ragu-ragu.

Tugas guru pra sekolah adalah senantiasa secara kreatif menggunakan metode pembelajaran yang sesuai untuk membuat anak-anak menjadi otonom. Apapun itu metodenya, mendongeng, bernyanyi, yang penting dilakukan dengan menyenangkan. Bagaimana kita bisa membangun kontrol diri sebagai wujud kemandirian. Seperti metode yang digunakan oleh Erik H. Erikson dalam mendidik anak-anak yaitu metode Montessori adalah metode yang menekankan perkembangan inisiatif anak melalui permainan dan pekerjaan.

 

 

15 Responses to “Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran”

  1. achoey sang khilaf Says:

    mari perbaiki generasi
    lewat pendidikan yang lebih islami

  2. Menik Says:

    Kuserahkan hal2 mengenai psikologi kepadamu Wi ;)
    Daku tak sanggup lagi mengingat2 materi2 kuliah dulu…
    Yang jelas, Agama jelas harus jadi basic dalam pendidikan. Patokan tiang iman buat ke depannya.

  3. kelepon Says:

    Keluarga yang nomer satu!

  4. rivafauziah Says:

    Pendidikan Islam dan Islami yang terpenting!

  5. nexlaip Says:

    nice post. Shahabat Umar RA, Bilal RA, Abu Bakar RA dll, belajar lewat pengorbanan dijalan Allah sehingga Allah memberikan mereka Akhlak yang baik, selalu dekat dengan orang2 shaleh dan menjaga amalan2 yg di lakukan Rasulullah SAW

  6. 311thoth Says:

    suasana kehangatan emosional seorang ibu itu seperti apasih?

  7. myviolet Says:

    ini guru ya….
    lam kenal ya…
    inibloger baru yang butuh temen..
    ohya aku puya pandangan tentang dunia pendidika..
    bahkan aku sempatpenen buat penelitian tentan ini, tapi berhenti karena terbentur waktu untuk kuliah..

    dimataku sistem pendidikan di Indonesia sudah harus dirombak total, tapi perlahan2 jua oleh…
    sistem saat ini masih terpengarus oleh sistem pendidikan orde baru…
    dimana sistem ini membiasakan siswa untuk didikte…

    siswa tidak dibiarkan berkemang sendiri, sehinga anyak siswa yang gak berani berpendapat….
    contohnya adalah temen2 kuliah ku sekarang..
    kebanyakan dari mereka adalah korban sistem pendidikan orde baru…
    mereka punya banyak ide bagus tetapi gak berani mengungkapkannya..
    sistem baru seperti KBK da sejenisnya juga belum berbuat banya,,,

    jadi klo guru2 mau berinovasi lebih pasti bangsa ini cepat maju..

    yang jelas untuk para ur…
    mohon… kembangkan keberanian siswa untuk menjadi orang yang kritis….
    bukan orang yag selalu meng iyakan kata2 orag yang lebih tinggi darinya..

    semoga ada manfaatnya amin…

    hehehe..
    aku bisa serius juga ya…..-

  8. rivafauziah Says:

    Tugas Guru?

  9. realylife Says:

    nyokkk , kita semua bekerja sama memmperbaiki generasi bangsa ini

  10. dewisang Says:

    nyokkk..
    mas kelepon..benar keluarga is number one
    mbk riva: tugas guru pendidik no.2 setelah keluarga.ok

  11. Ryzals Says:

    Assalamualaikum Dewi,
    Im Ryzals, from Malaysia. Accidental when im surf in net to find some info, i found ure blog. My comment is im impress with ure blog. Its is imformative and valueable. This is another way of dakwah right. So, keep it up.
    Im a educational management and leadership lecturer. Kindly if we can keep ure contact each other, maybe a lots of expirience, knowledge we can share eventhough we are from diferent country.
    Regards,
    Ryzal.

  12. dewisang Says:

    waalaikumsalam Ryzal,
    very nice to c u, our brother moslem. tengkyu 4 visiting. hope we’ll keep in contact to share ’bout education
    warm regard,
    me–dewisang

  13. Ryzals Says:

    Assalamualaikum Dewi,
    Thanks for ure response.
    Just ask one or two question…how do i upload my pic ?.
    How do i upload any article etc.

    Looking forward to knoe u more.

    Regads,
    Ryzal.

  14. dewisang Says:

    waalaikumsalam
    *for ur pic, u must sign up my bloglog or u must have blog, have u?
    *articles: just copying
    hope, we’ll meet in email/chat
    txs alot …

  15. Ryzals Says:

    Assalamualaikum Dewi,
    Im quite bussy this few days. Meetings, Discussion and tomorw (8 May) im going to attend the PhD interview. Just surfing ure site before im continue to finish my PhD proposal for interview tomorow. Err..boleh doakan agar saya berjaya yaa…hehehe..
    walaupun kita tidak kenal lagi….. About email to contact, yeah i think its good. I give u my personal email and u can email me ure adress through this ok : ammiab@yahoo.com.
    Maybe we can know each other details etc.
    Keep smart in work
    Best Regard,
    Ryzal.

Leave a Reply