DewiRakhma^Psy Weblog

May 4, 2008

Melongok SD Di Jepang

Filed under: pendidikan — Tags: , , , , , , , — dewisang @ 5:27 am

 Peringatan HARDIKNAS 2 Mei semarak dengan demo dimana-mana. Isinya kurang lebih tentang pendidikan yang semakin mahal “Mau Pinter Kok Mahal”, “si miskin yang makin tersingkir dari panggung pendidikan”. Adalah PR buat kita semua untuk mewujudkan pendidikan murah namun berkualitas. Sulit? Pasti, becoz nothing easy, tapi apa tidak mungkin? Mungkin sekali, becoz nothing is imposibble in the world. Sekedar sebagai bahan perbandingan, berikut ini ada tulisan ringkas mengenai sistem dan kondisi sekolah dasar di Jepang. Semoga pendidikan kita sedang menuju ke arah yang lebih baik. 1. Subsidi Pendidikan
Wajib belajar hingga SLTA masih terus diterapkan di Jepang, dan untuk itu subsidi pendidikan terus dikucurkan pemerintah, sehingga siswa hanya membayar “makan siang” sementara buku pelajaran dan fasilitas pendidikan dibiayai. Di Indonesia? BOS aja dikorup, maklum rakyat Indonesia sudah menganut aliran kleptokrasi

2. Fasilitas
Kompleks bangunan SD negeri sangat standar, lengkap dengan multi function hall buat OR dan pentas seni, kolam renang, lapangan sepakbola. Ruang kelas juga standar, ada TV, DVD player, piano elektrik, media praktek untuk pelajaran dan OR. Satu kelas ada 30 an anak. Di Indonesia, jangan berharap macam-macam, gedung masih berdiri tegak harus disyukuri. Lihat saja berapa gedung yang rusak bahkan ambruk. Di Jakarta, yang dekat dengan Presiden saja masih luput dari perhatian, apalagi yang ada di daerah. Bahkan hingga memakan korban jiwa, sangat “mengagumkan” Indonesia.

3. Kurikulum Sekolah
Keseimbangan antara otak kiri dan kanan sangat dijaga, sehingga jam pelajaran di kelas, praktek di luar kelas, pentas kesenian, olahraga (cukup berat bagi tingkat SD sampai belajar sepeda roda satu) diajarkan. Jumlah mata pelajaran lebih kurang 2/3 dari SD Indonesia, dan sarat dengan ajaran budi pekerti. Pentas seni sekolah 2 kali setahun dan semua siswa tampil dengan penonton semua ortu dan keluarganya. Di kita, pelajaran bejibun ampe stress segala kalau mau ujian, tapi tetep ga’ bikin Indonesia maju, malah terus meningkat (digitnya nambah maksudnya), menjadi negara yang mutu pendidikannya terus memburuk, kalah sama Vietnam.

4. PR
Siswa juga diberi pe-er dan orang tua diharuskan mengetahui bahwa pe-er sudah dilaksanakan, tentu dengan porsi yang pantas. Sabtu memang libur, tapi siswa tetap diberi tugas kelompok, misalnya berkunjung ke museum dan diharuskan menulis laporan.

5. Standar Guru
Hampir sama dengan SD waktu saya dulu sekolah, satu kelas ditangani oleh 1 guru. Bedanya, guru di sana memiliki standar yang lumayan tinggi. Guru tersebut harus menguasai semua mata pelajaran, termasuk bisa main piano, bisa praktek olahraga (tetap dengan bantuan pengawas). Hebat ya, benar-benar jadi role model, pantes kalo gajinya sebesar dosen. Di Indonesia? Demo kenaikan gaji, minta diangkat PNS, itu yang menjadi tuntutan utama tapi kinerja????Tapi yang benar2 kinerjanya oke luput dari perhatian. Seperti siswa yang unik, guru juga unik, harusnya diperlakukan sesuai kompetensinya, yang lebih bagus ya diberi reward…anggaran 20% untuk pendidikan aja ga’ terealisasi sampai saat ini, gmn mau maju ya?

6. Peran Guru
Guru mempersiapkan kelas sejak pagi, dan mempersiapkan materi untuk esok harinya. Rata-rata para guru pulang dari sekolah pukul 6 sore. Guru adalah moderator di kelas, dan murid aktif dengan diskusi. Tapi gaji guru memang sangat pantas, malahan konon tak jauh beda dengan dosen perguruan tinggi. Bila ada siswa yang ngga’ masuk, maka guru akan menelpon ortunya, dan saat pulang akan berkunjung ke rumah siswa. Keren ya….Benar-benar jadi public service, give the best, ga’ setengah-setengah menjadi “pelayan” siswa. Ini yang membuat guru makin dihormati karena terhadap orang lain sangat menghargai. Indonesia perlu dicontoh ne hal kecil begini. Harus ada anggaran lebih untuk telpon atau home visit. Pulang jam berapapun juga mau kalo gaji sebesar dosen.

7. Kunjungan Sekolah dan PTA

Sebulan sekali ada open kelas, dan orang tua bisa melihat dengan langsung kegiatan di dalam kelas. Ada Parent Teacher Association (PTA) dimana para ortu bertemu dan berembug demi kemajuan siswa. Keberhasilan siswa memang tidak bisa luput dari peran orangtua. Harus ada kerjasama yang sinergis antara sekolah, guru, staf, dan siswa dalam proses pembelajaran, it will make our children grow and learn in a positive atmosphere. Sekolah harus membuka diri akan kritik, pro perubahan merupakan salah satu ciri esensial jika kita mau sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

8. Pekan OR
Di kita ada Class Meeting dimana para siswa bertanding OR. Yang pinter basket ya basket, yang pinter ping-pong ya bertanding ping-pong. Lalu yang ngga bisa apa-apa yang jadi penonton. Sementara di Jepang bila ada acara tersebut (Undokai) maka semua siswa ikut terlibat. Mereka dibagi menjadi 4 s/d 5 kelompok yang campur dari unsur kelas 1 s/d 6 (group merah, kuning, putih..dsb). Jadi semua ikut terlibat, dan bahkan yang cacat badan.

9. Rayoninasi
Sistem Rayon juga diterapkan dan dapat berlangsung dengan nyaman karena standar SD sama. Hampir semua siswa dapat bersekolah dengan jarak capai pantas dengan berjalan kaki. Kalau di Kita sekolah-sekolah berlomba-lomba menjadi yang terbaik “sendirian”, karena tidak ada standar , sehingga atmosfer persaingan sangat terasa. Harusnya bukan bersaing tapi saling melengkapi. Itu mungkin yang membuat beberapa tahun lalu banyak SD yang merger dengan SD lain, karena kekurangan murid. Huh………

di Indonesia, pendidikan telah dipolitisir. Ganti menteri ganti kebijakan, semua demi kepentingan yang ga’ jelas. Setuju dengan pernyataan Pak Iwan di JP kemarin (Sabtu, 3 Mei 2008), perlu pendidkan hati nurani. Selama ini kita mengedepankan mind dan mematikan hati nurani. Pembakaran masjid Ahmadiyah, penyiksaan terhadap anak, korupsi, sogok menyogok, tawuran antar desa, perusakan kampus–anarkisme adalah hasil dari pendidikan kita yang berorientasi hasil, tidak menghargai proses. Tulisan ini saya dapat dari blogging last week, komen-nya dari aku sendiri. Maju terus pendidikan Indonesia

HappY HARDIKNAS everybody

warm regard,

dewisang

 

About these ads

10 Comments »

  1. Sekolah yang baik, adalah sekolah yang benar-benar menghargai proses. Baik guru maupun siswa nya apabila semuanya sudah menghargai proses daripada hasil maka insititusi sekolah akan manjadi institusi yang mencerahkan dan membesarkan potensi.

    Nice report.

    Comment by agusampurno — May 5, 2008 @ 12:34 am

  2. Ayo kembangkan sikap krestiv. Agar Indonesia tak hanya jadi negara konsumen. Blognya inspiratif

    Comment by AvicenaClub — May 5, 2008 @ 3:55 am

  3. Sulit memang untuk bisa sama dengan pendidikan di Jepang. Tapi bisa dimulai. Pendidikan di Jepang juga masih banyak masalahnya, tapi memang tidak mendasar, sehingga masih bisa ada peluang untuk diperbaiki.
    Soal guru yang menelepon murid, itu memang benar. Saya sendiri sering ditelepon dan diberi tahu misalnya kalau Riku tadi waktu makan muntah, jadi tolong lihat apa dia sakit. Atau mengingatkan ada formulir yang perlu diisi…. komunikasi guru dan orang tua memang bagus sekali. Mungkin bisa mulai dari sini?

    Comment by Ikkyu_san — May 10, 2008 @ 8:26 am

  4. keren blognya….:)

    Comment by adey — May 16, 2008 @ 9:04 am

  5. Sodara say guru di KB Int’l singapura gajinya lumayan mb. Masa di tmpt mb kecil? Atau ikutan spt guru laen ngeluh terus neh,pdhal siang sudah bisa santai di rumah. Range gaji brp di sklah ibu untk ptimbangan. Tks

    dewisang,
    doakan saya tidak termasuk orang2 yang tidak pandai bersyukur, semoga Allah tetap menjaga hati ini. AMiin. tulisan saya sesuai dengan kenyataan bahwa pendidikan di Indonesia yang belum ditangani secara serius.

    Comment by adiadi — June 3, 2008 @ 9:39 am

  6. bos izin copy paste TS nya hehehe

    dewisang said,
    ok. semoga bermanfaat dan bikin kita semangat unutk mencontoh pendidikan di sana

    Comment by jurekz — August 8, 2008 @ 2:05 pm

  7. :( malangnya Indonesia ku ini..

    saia juga ijin copas mba’ … mudah2an bisa jadi bahan instrospeksi buat kita semua

    dewisang said,
    oke. tapi jangan lupa ditulis sumbernya ya..mas…

    Comment by d4boz — October 10, 2008 @ 10:48 pm

  8. [...] Kredit: dewisang [...]

    Pingback by Melongok SD Di Jepang « maleset — October 10, 2008 @ 10:57 pm

  9. hmm, begitulah..

    dunia pendidikan kita memang memprihatinkan..

    kalo mau di benerin, harus merombak sekian banyak hal..

    btw, d Surabaya juga ada Surabaya Japanese School, kmaren mampir sebentar (ngelihat dari luar)

    benar2 mengingatkan saya akan sekolah2 di dorama dan kartun Jepang.

    Kalo di banding dengan sekolah2 lain di Indo, memang jauh sekali sih (baru dari gedung nya) :D

    dewisang said,
    ada ya di Sby…wah pengen tau….

    Comment by Shun — October 17, 2008 @ 6:12 am

  10. mba, aku guru SD kelas 1. aku pengen punya kelas yang oke. makasih ya, baca ini aku dpt masukan…copy paste ya maba. thx =)

    dewisang,
    siip, tp jangan lupa nulis sumbernya…okeh…

    Comment by fatia — February 25, 2009 @ 8:26 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: