DewiRakhma^Psy Weblog

January 9, 2008

Homeschooling

Filed under: Psychology — Tags: , , , — dewisang @ 5:24 am

Suatu Alternatif Pendidikan Bagi Anak

Saat ini perkembangan dunia pendidikan di Indonesia menunjukkan progresivitas. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sekolah baru yang muncul. Secara kasat mata dapat diartikan makin banyak orang yang concern terhadap dunia pendidikan. Sekolah bersaing untuk memberikan yang terbaik bagi anak, berdalih sekolah model, sekolah unggulan, sekolah plus, dan lain sebagainya. Mereka mengiming-imingi orang tua dengan fasilitas yang komplit, pembelajaran yang berbasis student center, intinya kalo sekolah di sekolah……pasti anak anda be the best.

Itu semua tidak salah, bagus malah, salute untuk mereka. Asalkan semua berada pada pedoman yang tepat yaitu menomorsatukan karakteristik anak didik. Bukannya menjadikan pendidikan sebagai lahan bisnis yang menggiurkan. Tapi tidak jarang sekolah malah semakin membuat anak frustrasi. Anak dibebani dengan berbagai tugas yang belum waktunya diberikan. Berdalih modernisasi. Anak TK B sudah dileskan kesana kemari biar bisa baca, tulis, hitung, biar masuk sekolah favorit, akhirnya jadi presiden……kasian banget anak yang punya orang tua seperti ini. Mereka beralasan demi anak, padahal sebenarnya egoisme orang tua belaka. Bukan salah orang tua juga sih, tapi salah sekolah2 yang bebas mengadakan tes masuk yang tidak masuk akal (menurut saya). Ini adalah koreksi untuk pendidikan kita, pengawas TK-SD sampai menteri harus bertindak secepatnya, kalo tidak kasihan anak2.

Ini lho yang pengen saya sampaikan. Seorang pendidik, siapapun itu, baik orangtua, guru harus memahami hakikat anak didik. Saya sepakat dengan pendapat Barbara Prashnig dalam bukunya The Power of Learning Style, yang mengatakan tidak ada kesulitan belajar yang ada adalah kesulitan mengajar. Harusnya tidak ada kasus anak tidak mau sekolah, dan tidak naik kelas jika guru mengerti kelebihan mereka dan memahami cara belajar siswa.

dari latar belakang tersebut muncullah alternatif sekolah rumah, memang masih terjadi berdebatan. Namun sekali lagi ini adalah alternatif bagi anak yang tidak betah di sekolah, mungkin tidak percaya terhadap sekolah juga. Sekolah adalah hak anak, bukan kewajiban. Jangan paksakan anak untuk sekolah jika ia tidak nyaman di sekolah, coba untuk mendidik anak sendiri di rumah, tentu orang tua harus punya banyak referensi tentang pelaksanaannya. Selain itu juga harus memahami benar kurikulum nasional agar anak tetap setara dengan anak-anak yang sekolah di sekolah formal.

Do the best for our child

7 Comments »

  1. Homescooling memang baru merebak di Indonesia. Tetapi menurut saya banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan terhadap anak, diantaranya :
    1. Anak tumbuh menjadi manusia yang egois
    2. Kepekaan sosial anak kurang, karena dia harus belajar sendiri dirumah
    3. Kedisiplinan anak kurang
    4. Ada hal-hal yang terlewatkan dalam hidupnya yang biasanya itu didapatkan disekolah.
    Selain yang tersebut diatas tentunya membutuhkan biaya yang tinggi.

    Ini nurut aku lho ya bu…..
    http://intiep.wordpress.com

    Comment by intiep — January 21, 2008 @ 3:42 am

  2. pertama mendengar kira-kira setaun yang lalu saya juga memiliki pendapat seperti itu, tp setelah membaca buku tentang itu pemikiran saya berubah. tp untuk lebih validnya perlu diadakan penelitian tentang anak2 yang mengikuti homeschooling. Sama kasusnya seperti akselerasi, dulu menurut saya anak2 aksel sosialisasinya buruk karena belajarnya ngebut mengingat sekolah hanya 2 taun. Pendapat itu didukung oleh penelitian2 sebelumnya.tp setelah saya meneliti di SMA 3 Malang dan MAN 3 ternyata penyesuaian sosial tidak ada masalah.demikian

    Comment by dewisang — January 24, 2008 @ 8:26 am

  3. klo sakit ya pergi kerumah sakit, klo maunonton ya pergi ke bioskop, ya kalo sekolah ya harus disekolahan donk…. awas salah presepsi antara rumah tinggal dan rumah sakit lo…. Heeeeeee 🙂

    http://efendirizal.wordpress.com

    Comment by lazir — January 25, 2008 @ 7:26 am

  4. bisa berobat di rumah kok, kalo di rumah suasana lebih comfortable kan bisa mempercepat penyembuhan…

    Comment by dewisang — January 28, 2008 @ 11:48 am

  5. Kepekaan sosial anak kurang…??
    Setau saya, ada penelitian kalo anak2 HS tidak kalah dalam hal sosialisasi. Ada metode HS majemuk yang memungkinkan kegiatan bersama homescholler. Di HS majemuk ini homescholler memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan anak2 lain, bahkan lintas usia. Kenyataannya dalam kehidupan mendatang kita tidak hanya dituntut mampu berinteraksi dengan orang seusia kita, namun dalam dunia kerja interaksinya adalah lintas usia bahkan lintas generasi.
    Kedisiplinan anak kurang…?
    Di HS tidak berarti anak-anak belajar sesuka hati mereka. Dibanding dengan peraturan yang bersifat memaksa seperti di kebanyakan sekolah, HS memberi kesempatan anak dan orang tua membuat “kesepakatan”, temasuk resiko bila masing-masing pihak melanggar kesepakatan.
    Bagaimana??

    Comment by missunita — February 10, 2008 @ 8:35 am

  6. ok mbk. se-7.txs 4 ur comment. iam waiting ur next comment.keep writing….

    Comment by dewisang — February 11, 2008 @ 5:32 am

  7. Home schooling saya harapkan menjadi sekolah yang dapat menumbuh kembangkan kepekaan sosial bagi anak saya, karena saya bisa berdiskusi serta memberi arahan dari pertimbangan yang masuk akal dari setiap diskusi tsb.
    Interaksi sosial dapat berlangsung tanpa batasan ketika kita mengucapkan kepada anak ” Ayo belajar dulu, besuk ada ulangan.” Karena interaksi sosial antara anak dan teman(lingkungan) adalah sudah merupakan proses belajar, dan setelah anak pulang kita bisa berdiskusi serta menelaah apa saja yang telah di dapat dari kegiatan anak kita diluar. Dan ini jauh lebih mudah memberikan arahan kepada anak terhadap sesuatu hal yang telah dilakukannya baik yang baik dan kurang baik, dengan pertimbangan yang sangat luas misalnya aspek budaya, sosial maupun agama sehingga kepekaan anak malah akan lebih baik.
    Terima kasih.

    Comment by Dani — March 29, 2008 @ 2:06 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: