DewiRakhma^Psy Weblog

March 27, 2008

“Perang Terbuka” Menjelang PSB

 Kalau cuma pengen anak balita anda bisa baca ga’ perlu sekolah mahal

Kalau anda keluar rumah, hampir di setiap sudut kota, tempat spanduk boleh dipasang, di gang-gang kampung, di jalan manapun kita jumpai spanduk yang berisi berbagai “keunggulan” sekolah-sekolah (kebanyakan TK). Dari penampilan luar, warna dan semacamnya, sangat eye catching, menarik, dari programnya juga, ada yang menamakan sekolah “plus”, sekolah “unggulan”, bahkan ada salah satu TK di kota Malang yang menerapkan web dan full English untuk anak TK. Bahkan ada juga yang bilang “pendaftaran cuma 3 hari” kaya’ perang discount di matahari aja. 

 Kalau masih balita buat apa internet, nanti kalau buka yang aneh-aneh bingung ngatasi, biarkan mereka ini tumbuh dengan alami, sayur- buah aja sekarang lagi dikampanyekan yang organik. Apapun yang natural sepertinya efeknya lebih bagus. Pinter English terus pas disuruh nenek ambil sendal item, ga’ ngerti karena ngertinya black. Ikan ga’ ngerti, ngertinya fish. Program untuk anak TK itu adalah pengenalan, yang penting adalah bahasa ibu, bahasa ibu apa ya itu yang harus dipahami, bahasa itu mudah kok kalau lingkungan terbiasa English dengan mudah dia kan menirukan English, ga’ usah dipaksa.

Hmmmm, menarik memang penawaran-penawaran itu. Adalah harapan setiap orang tua punya anak yang hebat. Namun, ibu-bapak…bijaklah, jangan cuma pengen mboiss, hanya prestise, gaya-gayaan, atau mengatas namakan modernitas, mengatakan demi kebaikan anak, memilih sekolah yang mengajarkan baca sejak dini. Menurut saya salah besar kalau tujuan-tujuan itu demi anak, sejatinya itu adalah demi kebaikan bapak dan ibunya sendiri, egoisme orang tua. Mungkin ada yang merekomendasikan “ sekolahkan disini saja, TK A sudah hafal A-Z”. Kalau saya cuma bisa kasihan sama orang-orang seperti ini, apalagi bapak-ibunya berpendidikan (sarjana), waduh gagal jadi orangtua kalau menurutku. Karena waktu dan kesempatan untuk beli/baca buku, buka internet untuk mendapat informasi tentang perkembangan anak, artikel-artikel mengasuh anak yang baik lebih terbuka lebar dibandingkan orang-orang yang “terbatas”, di desa misalnya. Tapi, kalau anda masih ngotot pengen anak anda diajarkan calistung bisa hubungi saya, SPP sebulan ga’ sampai 20.000, TK A sudah dapat PR nulis tiap hari. Korbannya adalah ponakan saya, saya yang mencak-mencak tau ada tugas begituan dari gurunya. Saya bilang ga’ usah dikerjakan, lha wong motoriknya saja belum sempurna kok sudah disuruh nulis. Pegang pensil aja masih belajar lho……. haduh, gurumu emang ga’ ngerti. Tapi membawa korban lho, kan megelno. Orang tua sama ga’ ngertinya, seneng-seneng aja anaknya diajari sesuatu yang belum waktunya. Bisa nulis, tapi melipat, rnenggunting, mewarnai ga’ bisa, waduh ga’ usah ada TK wis. Hai pengawas TK-SD segeralah tindak TK yang menerapkan sistem ini. Dan SD yang menerapkan tes calistung sebagai tes masuk. Di UU sisdiknas bisa dilihat TK itu batasannya apa.

Saya yakin D2 PGTK tidak ada mata kuliah untuk mengajari anak-anak TK calistung, yang ada bagaimana anak-anak diajak kreatif (gurunya termasuk), mengembangakan segala aspek, kemandirian terutama, beri pengalaman baru sebanyak-banyaknya (early experience). Kalaupun gurunya ngotot ngajari pasti caranya salah. Membuat huruf a atau d tidak pakai teknik. Yang terjadi kebanyakan nulis a dari arah mana dulu ga’ tau, pokoknya jadi a. Guru hanya menuruti kemauan orang tua/kemauan pasar, nanti kalau ga’ diajari calistung ga’ payu sekolahku, mungkin pikiran mereka begitu. Pokoknya diberi PR kalau selesai dapat bintang lima, ga’ peduli di rumah yang ngerjakan siapa, mamanya atau neneknya. Kalau seperti itu pendidikan Indonesia sepertinya akan makin hancur, kita mengulang kegagalan pendidikan kita, yang tidak berorientasi proses tapi berorientasi pada hasil, jangan kaget nantinya anak-anak ini akan meneruskan budaya korupsi yang telah mendarah daging di negeri ini. Teman saya ada yang TK nya di Belanda (klik Prabuwardhana), heran juga lihat TK disini yang bingung Calistung, kalau disana TK=main!! sepertinya di Indonesia juga begitu ya dulu, beberapa tahun belakangan ini aja sepertinya makin merajalela.

Jangan ngotot ngajari calistung sampai les dimana-mana, pinter baca mau masuk SD, tapi sampai kelas 5 makan masih disuapain, mandi dimandikan, saudara saya ada yang seperti ini, pinter pelajaran eksak, tapi seni=nol, ga’ mandiri juga. Siapa yang salah ya orang tua dan TK nya juga gagal. Orang tua menuntut anak harus belajar dan belajar, main ga’ boleh, harus juara 1. Haduh…..saya kasian banget sama anak itu, sudah tau parenting seperti itu gagal, sekarang masih diterapkan sama adiknya. Adiknya mau lulus TK tahun ini, waduh heboh sekali persiapan masuk SD, dari usia masih kurang, di les-kan baca tiap hari sepulang sekolah (jam 11), main ga’ boleh. Di Jakarta juga ada sekolah kaya’ begini, TK tapi minimalis sekali mainannya, adanya lego, bahkan bermain sudah dijadikan reward, kalau ga’ selesai tugas ya ga ada main, kalau tugas selesai hadiahnya adalah main. Tragis!! ga’ ada lagi taman yang paling indah adalah taman kanak-kanak. Yang ada TK sekarang adalah pemandangan yang mengerikan buat anak-anak, anak dibuat frustrasi, saya sampai bingung what should i do God, lapor ke Komnas Perlindungan Anak, Kak Seto tolong dooong. Ini kisah nyata saya peroleh dari komen di Blog Miss Nita. Saya punya keinginan long march di jalan malah, pas peringatan Hari Anak Nasional, ada yang mendukung saya??? Say No To Calistung, Say Yess For Children. Pengen banget campaign ini dari dulu.

Buat orang tua, ga’ usah bingung, kalau cari TK ya cari yang banyak mainannya, sudah satu itu aja, ga’ percaya ajak anak anda ke sekolah yang akan dimasuki, kalau dia ga’ suka ya jangan dipaksa, cari sekolah lain yang dia suka sampai dia bilang “ya Ma aku mau sekolah disini”. Ok Mam, ga’ usah pusing, komputer, English, apapun itu cuma additional. Saya berani jamin, ga’ sampai sebulan anak anda akan bisa baca, kalau perkembangan memang sudah sampai tahap itu. Kalau belum ya jangan dipaksa, terima kekurangan anak apa adanya. Dan proses itu penting, semua ada masanya, jangan “diperas” otaknya sekarang, sekarang “kelihatannya” menonjol, tapi masih ada SD, SMP, SMA, kuliah. Lihat biografi ilmuwan dunia, bagaimana masa kecilnya, kebanyakan mereka dianggap “aneh”, beda dari teman sebayanya, ada yang tidak mau sekolah (Einstein), dia bilang saya ga’ mau sekolah karena di sekolah tidak diajari sepak bola. Ada yang tidak bisa baca sampai besar.

Pesanku:buat orang tua , pahami, sadari bahwa anda adalah pendidik yang utama dan pertama, sekolah hanya tiga jam (TK), 6 jam (SD) sisanya adalah tugas anda mendidik, jangan menuntut terlalu tinggi kepada sekolah. Lebih bagus lagi anda meneruskan nilai yang diajarkan di sekolah. Bukannya di sekolah diajari sholat berjamaah, tapi di rumah orangtua tidak sholat, sampai ada kasus anak ga’ mau diajak sholat pas di sekolah dengan bilang “ga’ mau, saya lo di rumah ga’ pernah sholat” tentu kita semua tidak mau anak merespon seperti ini. Proteslah kepada sekolah jika anak anda bilang gurunya judes, atau jahat, bikin anak stres, dilarang begini-begitu, itu melanggar hak anak. Bukan malah protes kalau anak tidak diajari calistung. Pernah ada ibu dari murid saya (dosen PTN) pas ambil hasil evaluasi tengah semester I (3 bulan TK B) bilang anak saya kok belum bisa baca sih bu, gimana SD nya nanti, kalau pengen masuk MIN gmn? renungkan sendiri ya bu……..

Guru: ga’ usah bingung dengan permintaan pasar. Just explain. Pegang prinsip pendidikan, psikologi pendidikan, psikologi perkembangan, dan ilmu pendidikan. Mari kita berikan hati kita saat mengajar jangan hanya sekedar memberi instruksi yang akhirnya membuat situasi akademik hanya mengedepankan otak kiri. Sehingga mengubah anak-anak kreatif menjadi robot-robot kaku yang penurut. Suasana seperti “penjara” ini yang membuat anak2 menjadi “school-phobia“.

Untuk pengawas TK-SD, menteri Pendidikan, segera tindak sekolah TK yang “menyimpang” dan SD yang menerapkan tes Calistung sebagai tes masuk.

Catatan: tulisan ini tidak ada tendensi apa2, murni hati nurani saya yang peduli pada anak-anak dan bentuk protes terhadap pola pendidikan di Indonesia.

Say Yess For Children

 

22 Comments »

  1. hmmm kasihan anak-anak dikarbit ya. Nanti saya akan susun deh tulisan tentang TK di Jepang. Tapi yang saya bisa bilang sekarang adalah TK di Jepang tidak mengajarkan menulis, tapi mengarahkan ke sana. Jadi bermain dengan pensil,spidol membuat garis/lekukan yang memang nantinya akan dipakai waktu menulis (dalam hal ini Hiragana). Tapi…ada tapinya, bukan berarti anak TK belum bisa menulis/membaca. Karena di Jepang pun persaingan tinggi untuk bisa masuk sekolah favorit. Karena itu orang tua menyekolahkan anaknya ke KUMON atau tempat les lainnya khusus untuk menulis dan belajar dasar-dasar yang mungkin ditanyakan pada waktu interview masuk SD favorit. Memang sulit ya…

    Comment by emiko — March 30, 2008 @ 7:57 am

  2. AKU SETUJU WI …
    Taman kanak-kanak itu “tempat bermain” dan “berteman banyak”
    Kasihan jika sekecil itu sudah di loading segitu banyak pelajaran yang “serius”
    Masa kecil mereka bisa “terenggut” …
    Salam saya

    Comment by nh18 — March 31, 2008 @ 2:26 am

  3. Keponakannya tidak sekolah di tk nya ibu? Jangan dibiarkan bu. Kalau satu sekolah dengan ibu kan enak,sekalian membantu biaya spp nya. Belajar merasakan susahnya mencari uang untuk spp anak. Setuju bu?

    Comment by ToDewisang — April 1, 2008 @ 7:50 am

  4. Ganjil juga kedengarannya. Mulailah perubahan dari sekitarmu. Selamatkan keponakanmu dulu bu, itu baru aktivis anak anak yang te-o-pe.

    Comment by Comment — April 1, 2008 @ 8:05 am

  5. Waduh…berapi-api tulisan mbak dewi ini..
    Saya sampai membayangkan mbak dewi ngos-ngosan mencurahkan isi hatinya…:)
    Actually…mbak dewi jadi membuka perang juga dengan lembaga2 pendidikan yang bersebrangan dengan ide-ide mbak dewi ini. Tapi di jaman yang bebas ngomong seperti sekarang ini (termasuk bebas di nulis di blog)itu sih wajar2 aja..Kayak cita-cita mbak dewi untuk mengembalikan esensi pendidikan di usia dini..
    Salute…tetap semangat…!!
    PS. Jangan sampai sakit lagi🙂

    Comment by missunita — April 2, 2008 @ 2:49 pm

  6. iya emang aku lagi sebell banget sama situasi sekarang, bisanya cuma nulis yah itu yg aku lakukan, ok. aku siap kok kalo ada lembaga yg mengkritik tulisan saya, saya yakin alasan mereka adalah nanti kalo tdk diajarkan kan TK kita ketinggalan dg yang lain atau nanti kalau masuk SD terus ada tes gmn, ato anak saya ketinggalan nanti dg anak yg lain. tidak ada alasan yg mendasar, i think. semoga saya tetap konsisten aja.txs mbk and pak NH

    Comment by dewi — April 3, 2008 @ 2:35 am

  7. buat mbk Imel:txs mbk infonya, di Tk saya bukan berarti membuat anak buta huruf,kita memberi tugas sesuai tahap perkembangan mereka.kita tetap mengenalkan, sama juga seperti di Jepang ada belajar pake spidol, pensil, bikin garis, itu kan utk membantu motorik biar siap pegang pensil/nulis nantinya.kalo yg lagi getren di Indo, nulis beneran mbk, sampai 1 halaman, kaya anak dihukum gitu.kalo yang TK B malah gawat lagi.materi kelas 1 dah diberikan di TK…

    Comment by dewisang — April 3, 2008 @ 3:22 am

  8. utk yg anonim:
    txs komen-nya.usaha utk keponakan saya, du rmh saya beri pekerjaan seperti yg diajarkan di sekolah. saya tanya rekan guru, modul yg ada sy kopi dan diprint di rmh sy berikan, ini utk meyeimbangkan saja. terus kalo ada PR dia ga’ suka ya saya bilang sudah gpp ga usah dikerjakan. trus sy juga sudah ngobrol sama gurunya.usaha kecil yg lain, sy mencoba ngobrol dg saudara/tetangga ttg anak TK sebenarnya gmn. krn tingkat pendidikan orangtua di tempat sy masih rendah pak/bu, SMP itu sudah bagus, jadi pelan2lah bicara dg mereka. Dari dulu sy pengen ponakan sekolah di TK sy, tapi apakah anda tau kondisinya seperti apa. nanti kalau penghasilan saya sudah byk,saya sehat,, bisa kerja lebih keras, pengennya bukan hanya ponakan yg sy sekolahkan, yg lainpun bisa, malah mimpi sy adalah punya sekolah sendiri. sekarang masih memulihkan kondisi, buat ke dokter aja masih biaya orang tua..he…he…mungkin itu cara2 yg bisa sy lakukan, termasuk nulis di blog ini. krn secara power sy ga punya, seandainya saya jadi mendiknas, pasti sudah saya tindak. Alhamdulillah masih bisa lewat tulisan, daripada cuma doa.minta doa buat smua, senoga sy diberi sehat shg bis melakukan sesuatu yg lebih byk. amiin

    Comment by dewisang — April 3, 2008 @ 3:37 am

  9. ehmmm psikolog yang bijak

    Comment by achoey sang khilaf — April 3, 2008 @ 6:08 am

  10. hhh, tulisan mbak dewi saya dapat saat saya googling…
    berhubung saya bekerja di sekolah bertaraf internasional (walaupun bukan sebagai guru),sedikit banyak saya tahu proses belajar yang kami gunakan dan visi pendidikan yang kami tuju.

    hal yang saya yakini (ini berdasarkan membaca banyak buku dan melihat keseharian proses belajar di sekolah) saya megambil kesimpulan tertentu.

    Ada yg sama denga mbak dewi, ada yang tidak…itu jg saya buktikan karena saya juga punya anak.

    Yang pertama, bahwa anak-anak itu cinta bermain…saya rasa bukan hanya anak-anak saja…tapi saya pun masih suka bermain…
    Yang orang dewasa tidak sadari, anak-anak itu sebenarnya mencintai proses belajar jauh lebih tinggi daripada orang dewasa…

    setiap detik mereka mempelajari hal baru…hanya orang dewasa yang mengkotak-kotakkan proses belajar itu dengan konotasi duduk manis, baca buku, tulis dan hitung…

    siapa bilang anak2 tidak suka membaca di usia dini?

    sebenarnya yang paling penting untuk direnungkan adalah “CARA” belajar…

    Tugas para guru adalah bagaimana dengan cara yg FUN membuat hal-hal yg anak-anak kita pelajari tidak terasa seperti “belajar” seperti kaca mata saat ini…

    pengalaman dengan keponakan saya yg berumur 7 tahun membuktikan hal ini. saya sangat cinta belajar..dalam bentuk apapun…lalu saya mencoba mengajari keponakan saya..(ini berbeda dengan mbak dewi yg hanya fokus pada materi yg dicopy yg diyakini lebih baik dari sekolah keponakannya).

    saya coba gali kreativitas saya dalam mengajar supaya keponakan saya supaya dia mengerti konsep matematika…
    dan percaya atau tidak, 1 jam saya mengajar dia, dia minta tambah lagi…gak bosen, gak jenuh, gak stress…

    apa kalau dia minta lagi kita tolak? jelas tidak…
    tapi justru itu menantang kita sebagai pengajar, apakah kita dapat membuat anak ini terus mencintai proses belajar itu sendiri…

    saya pakai kelereng asli (bukan cuma gambar di buku), saya pakai lidi asli, saya pakai permen asli…and voila…he understands what I mean…

    sesudah itu, dia bahkan bisa asik sendiri belajar matematika…

    jadi yang paling saya tekankan di sini, justru semua boleh diajarkan di usia dini karena memang ini adalah naluri mereka. selain itu usia itu adalah usia terbaik mereka menyerap segala sesuatu…semakin kita menyia-nyiakan usia ini, maka sayang sekali..

    anak saya senang belajar membaca dengan metode glen doman n what can I say..? she likes it a lot!

    yang penting adalah cara mbak dewi, supaya mereka tidak berfikir konotasi belajar dengan sesuatu yg kita kenal menyebalkan sekarang…

    buatlan mereka belajar dengan cara yg menyenangkan…

    begitu jg dengan bahasa asing…
    kemampuan berbahasa ibu mauoun asing sama basicnya…
    “TERBIASA”

    kala kebiasaan itu kita pupuk makin dini, maka akan makin tertanam….tidak perlu khawatir mereka lupa bahasa ibu krn saya jamin ibu-ibu n bapak-bapak yg ada di rumah bicara dengan mereka menggunakan bahasa ibu. Right?
    Pasti mereka akan mengerti bahasa Indonesia & Inggris sekaligus..bahkan kalau mau dicoba, biarka ada orang yg selalu bicara bahawa sunda/jawa, spanyol berbarengan di sekitar mereka asalkan orang2 tersebut konsisten, dijamin anak kita akan menguasai semua bahasa itu…

    makin tinggi usia kita belajar, makin sulit dirubah…termasuk bahasa….

    sometime we doubt children ability to absorb every “lesson” we teach to them…
    justru kemampua kita belajar jauh lebih kecil dibandingkan mereka….

    pokoke intinya belajar lewat bermain…

    begitu mbak dewi…

    yg saya setuju addalah saat kita memaksakan sesuatu utnuk mereka pelajari, maka itulah awal momok…

    mengotak-kotakkan anak berdasarkan kemampuan mereka di bidang akademis…

    setiap orangtua hanya ingin anaknya pintar matematika, bahawa inggris, ipa, krn paradigma lama yaitu mereka adalah anak-anak berbakat dan pasti sukses di masa depan..

    padahal setiap anak unik…tidak semua anak suka matematika tapi dia suka melukis, presentasi, bermusik…yang semuanya berpotensi meraih sukses di bidang2 tersebut saat mereka dewasa.

    kitalah yg membentuk opini bahwa pekerjaan2 tadi tidak bisa dikatakan sukses, bergengsi…

    jadi sebelum kita memprotes pola pendidikan yg ada, cobalah ubah pandangan kita sebagai orang dewasa terhadap dunia…

    Comment by ani — April 3, 2008 @ 10:05 am

  11. posting mbak De bisa menginspirasi kami. sesekali posting tentang perjalanan hidup dan cinta mbak De. apakabar cintamu,yg memberi inspirasi, lara, senyum, warna. Bisa saja hati kami semua berwarna warni mengikuti alurmu. Selalu semangat!

    Comment by DEWACUPID — April 3, 2008 @ 1:07 pm

  12. Because i like your post. Ceritakanlah sisi lainmu. Beritahu dunia dengan apa adanya. Buatlah kami berwarna dengan inspirasi hidup cinta dalam terjatuh dan terbangun. I am waiting for your new post in love love love

    Comment by DEWACUPID — April 3, 2008 @ 1:20 pm

  13. Thank mbak dewi, postingan ini bisa sedikit membantu saya untuk menetukan TK pilihan untuk anak saya, dan kebetulan saya memindahkannya dr Playgroup yg sekarang ini krn nanti tamat TKnya anak diharapkan sudah bisa calistung dan yang gawat lagi satu kelas anak2 bisa 30 orang..mana kelas sempit tanpa AC gurupun hanya satu.. wah bener2 maksa banget…

    Comment by widya — April 5, 2008 @ 6:02 pm

  14. sama-sama bu wid. alhamdulillah masih ada orang tua yang bijak seperti ibu, jangan khawatir bu..insya alloh baca itu alamiah, pasti semua bisa, tinggal kita sabar aja.kalo usia 8 tahun belum bisa baru panik, tp kalo 6 tahun belum, ya emang belum waktunya. selamat ibu

    Comment by dewisang — April 10, 2008 @ 6:02 am

  15. Hmm…Tulisanku mau dipromoin buat apa neh?? Untuk cari dukungan buat PilGub Jatim ya?? Wekekekek…

    Yah begitulah negara ini, kalo aku gak ada yang bisa aku lakuin untuk pendidikan di Indonesia kecuali hanya berbuat yang terbaik buat bangsa dan agama.

    Diriku bukan akademisi apalagi politisi.

    Nah, kebetulan mbak Dewi kan akademisi nih, mulailah perubahan-perubahan di sekitar mbak dulu. Syapa tahu nanti bisa menjadi pilot project buat sistem pendidikan usia dini di Indonesia.

    Tak dukung 1000% juga.

    Besok anakku kalo udah TK mau tak ajarin Trigonometri sama Deferensial ahhh… *kabur sambil pura-pura gak ada apa-apa*

    Comment by prabuwardhana — April 15, 2008 @ 5:10 am

  16. Oya sekalian ralat, tadi kelupaan.

    Aku dulu bukan di Belanda tapi di Jerman Barat. he..he..he..

    Comment by prabuwardhana — April 15, 2008 @ 5:14 am

  17. tulisannya..ya buat pelajaran ornag banyak, kan saksi hidup tuh. pilot project….waduh, waduh terlalu berat kayanya…
    jadi apapun kita semoga bisa menyumbang sebisa kita. aku bisanya juga nulis kok mas…

    Comment by dewisang — April 20, 2008 @ 8:54 am

  18. maaf .. ketinggalan, baca tulisannya. Saya setuju bangat. Rasanya saya dulu nggak pernah TK, SD juga udah umur 9, maklum orang kampung, tapi kemampuan kami untuk bersaing dengan orang kota; rasa-rasanya nggak kalah amat … buktinya … Alhamdulillah, saya dan adik-adik bisa juga ngembaur ama orang kota – kami punya kerjaan … ya … untuk prestise bisa dikata bagus …. saya mengajar di salah satu PTN di Bandung …. lulus di TK – SD – SMP – SMA tapi belum menjamin kelulusan di sekolah KEHIDUPAN…

    Comment by Manto Manto — May 9, 2008 @ 10:33 am

  19. salam kenal mbak dewi
    anak saya sekolahnya mahal juga mbak…tapi ngak papa lah sekolah sekarang emang mahal.saya setuju dengan konsep belajar fun karena sekarang ini saya lagi kembangin metode pembelajaran kreatif & inofatif bersama APIQ…pembelajaran matematika dengan pendekatan aritmatika.

    salam kenal juga…
    selamat pak/bu masih dilimpahkan rejeki shg bisa menikmati fasilitas pendiidkan. tapi kita tetap berharap dan berdoa semoga suatu saat pendiidkan bermutu dapat dinikmati oleh semua warna negara tanpa syarat apapun, krn memperoleh pendidikan adalah hak semua warga negara. APIQ itu apa ya…

    Comment by Puada — May 29, 2008 @ 9:30 am

  20. kunjungi aja bu APIQ.wordpress.com. Aritmatika Plus Intelegensia Quantum.
    saya lagi mengembangkan metode belajar Kreatif matematika dengan pendekatan aritmatika
    Salam, Selamat ya atas dibukanya forum unjuk pendapat yang positif,cerdas dan kreatif. Saya menghaturkan selamat dan semoga sukses serta berkembang terus. Tentu saja agar semakin menyadari ke-diri-an hakikat manusia. di forum ini saya sangat berharap agar partisipan melangkah melampau teori-teori material menuju kepada praktik dan hakikat spiritual abadi. Meminjam istilah F. Schuon, perennial. Selamat bergabung semoga kita semua dalam pencarian ke dalam diri. Semoga dengan demikian Tuhan menolong kita untuk menemukan ‘DIRI’ sejati kita. sekali lagi selamt…selamat…selamat…

    Comment by Puada — May 31, 2008 @ 7:00 am

  21. saya arema. Bisa minta referensi sklah islam fav di kota mlg bu dewi. Sekolah ibu tmsuk? Apa lokasinya strategis? Kualitas gurunya? Anak sya msh 3 tahun.Trims,
    dewisang,
    Sekolah favorit versi ibu yg seperti apa ibu? sebagai pertimbangan mungkin yang paling penting pendidikan harus meletakkan student as center, bukan untuk prestise, bukan karena korban modernitas yang akhirnya membuat anak2 stres karena diajari sesuatu yang belum waktunya. begitu ibu’.kalau sekolah saya berlokasi di Singosari, cukup strategis, untuk lebih jelas bisa klik di tkbanihasyim.wordpress.com.disana lengkap ada visi, misi, fasilitas, identitas guru, dsb. kalau ada yg kurang jelas bisa bertanya secara langsung atau via email. dari situ ibu bisa mempunyai gambaran tentang sekolah kami. untuk sekolah lain ibu bisa mencari di google, sekolah bagus biasanya ada di internet. mohon maaf jika ada yg kurang berkenan. saya dan sekolah kami siap share jika ibu berkenan. terima kasih.
    assalamualaikum

    Comment by sitikhasanah — June 3, 2008 @ 9:53 am

  22. ya,belajarkan bukan hanya di sekolah, saat duduk, berdiri, berjalan dimana dan kapanpun kita bisa belajar saya pikir itulah sekolah yang sebenarnya….

    dewisang,
    Yes, i agree, apalagi di angkot, so many people we met

    Comment by siti lutfiyah — May 19, 2009 @ 10:19 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: