DewiRakhma^Psy Weblog

July 2, 2008

“Bangsa porak-poranda”

Filed under: Resensi — Tags: , , — dewisang @ 12:21 am

Karya: Taufiq Ismail

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,
terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang,
anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid,
pecandu narkoba 6 juta anak muda,
pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping,
kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol
diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya,
dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar:
Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu,
menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi
lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan
di pelabuhan dan bandara,
ketika pulang lihat mereka berdukacita
karena majikan mungkir tidak membayar gaji,
banyak yang disiksa malah diperkosa
dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi,
kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.

Dulu penjajah kita satu negara,
kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa.
Mereka berdasi sutra,
ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.

Makin banyak kita meminjam uang,
makin gembira karena leher kita makin
mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan,
begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,
dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet,
bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling,
jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.

Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia , sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang,
melimpah dari atas sampai ke bawah,
tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling
yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata,
bagian juga dari yang pegang senjata dan yang memerintah.

Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa,
asrama yatim piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta,
bertaubat nasuha
dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?

Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,
tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,
malahan mereka juru tafsir peraturan
dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum,
berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini,
cukup jadi sebuah negara mini,
meliputi mereka yang pegang kendali perintah,
eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis,
yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi.
Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan
Insya Allah tak akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia
mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun
dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya,
jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita,
ada hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata,
tak sampai hati menegurnya.

Celakanya,
bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah,
Kita cenderung menutup-nutupi fakta,
lalu dimakruh-makruhkan
dan diam-diam berharap
semoga kita mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia
dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah
Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya! ” teriak mereka.
“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.
Mereka menangkapku.
“Ambil bensin!” teriak seseorang.
“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.

 

puisi Karya Taufiq Ismail, judul saya sendiri. Saya dapat dari imel Mas Andy Sutioso (owner Semipalar) untuk renungan kita semua

11 Comments »

  1. ya saya pernah baca puisi pak Taufik ini. Saya suka puisi-puisinya.

    dewisang utk mbk Imel,
    emang mbk Imel hebat…ak senang orang suka baca, dan semoga ak tetap dan makin suka baca.

    Comment by Ikkyu_san — July 2, 2008 @ 11:58 am

  2. Taufik wah hebat ya..apalagi smes – smes tajamnya🙂

    dewisang buat m.jalal,
    lho bukannya dia dah meninggal krn kecelakaan itu…yg gendut itu se..yg lucu…

    Comment by djalal — July 2, 2008 @ 1:30 pm

  3. Jadi berpikir nih, kapan ini semua akan berakhir…
    gak heran kalo makin lama optimisme itu akan hilang. lha wong tiap hari semakin dicekik oleh kebutuhan hidup

    dewisang,
    berpikir berarti masih peduli sama bangsa sendiri, klo lihat masalah2 begini emang bikin ga’ betah tinggal di Indo, ga’ ada rasa bangga itu. tp, coba kita lihat juga anak2 hebat yg mennag Olimpiade, itu juga anak Indo. LIhat metro tv, kita jadi bangga klo masih ada tv yg peduli utk mendidik bangsa. Ada program 10 hal yg bikin bangga itu lo, dulu di metro, tp g tau sekarang ada pa ga’. acara itu seenggaknya bikin kita inget klo tyt Indo ada kelebihannya (untuk menghibur ajasih)

    Comment by gunawanwe — July 2, 2008 @ 1:43 pm

  4. memang benar unkapan orang-orang bijak tsb. negara kita diisi oleh orang-orang yang tidak bermoral…..negara yang kata orang-orang sana disebut2 sebagai negara religius namun kenyataannya lain……… masalah ini saya kira termasuk masalah yang sulit disembuhkan, big problem…….. terus bagaimana solusinya…??? taubat nasional kah sebgaimana dilakukan oleh para ulama NU ………. ataukah via penegakan hukum seperti yang dilakukan oleh KPK selama ini………….??? ataukah via revolusi moral …………….???

    dewisang,
    klo tobat mungkin cuma ritual..aku juga bingung, apa perlu di bumi hanguskan ya…karena sudah mendarah daging sih

    Comment by fung — July 2, 2008 @ 1:44 pm

  5. salute banget sama Pak Taufik yang bisa menciptakan kata2 yang mengena buat kita semua🙂

    kereeennnn🙂

    dewisang,
    sepakat

    Comment by Menik — July 2, 2008 @ 4:19 pm

  6. ………………berapa lama bikinnya yaa……panjang dan bermakna…..sebuah kerisauan

    dewisang,
    iya ya…mungkin terinspirasi oleh kejadian2 itu, tp dasar orang hebat, kondisi yg merugikanpun masih tetap bisa berkarya. itu mungkin pelajaran utk kita agar tetap bisa berkarya dalam kondisi seburuk apapun. coba klo ga’ kreatif, kya ak, susah bgt mo bikin puisi, meski cuma beberapa bait. beda bidang kali ya, appaun bidangnya deh, semoga ita tetap berguna utk orang lain

    Comment by nexlaip — July 3, 2008 @ 1:25 am

  7. BTW puisi ini ngomongi siapa sih?
    Siapa sih yg ngutang 1600 trilyun atau 1.6 quadrillion itu?
    “maka kita cenderung tutup mata”

    dewisang,
    siapa ya?kira-kira siapa?

    Comment by ipk4cumlaude — July 3, 2008 @ 2:56 am

  8. jadi kangen lihat pak taufik baca puisi. sederhana. logal yg khas.

    Comment by aseagullflap — July 3, 2008 @ 10:43 am

  9. nyantai aja gak perlu pusing..anggap aja itu terjadi di republik tetangga..lingkungan sekitar kita yang penting (diri kita,keluarga,tempat kerja,komunitas dll) di mana kita berdiri,memberi warna yang positif dan bisa ber”arti” kalo semua orang berpikiran begini ntar juga bersih..toh yang tua-tua itu juga bakalan mati

    dewisang,
    semoga cepet mati dan gantinya ntar ga’ ikut2 pendahulunya

    Comment by djalal — July 3, 2008 @ 3:07 pm

  10. Ah pusing ngerenunginya, benang kusut.

    dewisang,
    ya istirahat sebentar jika pusing, tp jgn pernah berhenti utk merenung krn itu bikin kita (minimal) inget bagaimana bangsa ini, akhirnya bikin kita terdorong to do something to minimalize it

    Comment by ubadbmarko — July 5, 2008 @ 11:54 am

  11. HHmmm …
    Ya .. ini perenungan yang bagus ..

    Thanks Wi’

    Comment by nh18 — July 8, 2008 @ 9:43 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: