DewiRakhma^Psy Weblog

December 17, 2008

RACUN DUNIA

Filed under: environment, News — Tags: , , , , — dewisang @ 2:05 pm

Mas Djalal, ingat ga’ lebaran kemarin aku tanya pendapat sampean tentang iklan rokok yang menurutku kontradiktif? Lha wong rokok itu racun, sudah jelas-jelas mencemari lingkungan lha kok bikin program-program pro lingkungan, kampanye Go Green (Dji Sam Soe Hijau), membiayai pendidikan (Sampoerna Found), mendirikan sekolah bulutangkis (Djarum). Ingat ga’ jawabanmu apa, mas kamu bilang, “bukan kontradiktif, itu namanya salah satu bentuk tanggungjawab social”. Mmmm (aku berpikir). Dan tau ga’, sebulan kemudian, 17 Nopember 2008, di Koranmu, Tempo, muncul artikel yang sama dengan pemikiranku itu, judulnya “Indah Tapi Berbisa”. Coba aku kenal Pak Wicak, tulisanku yang dimuat kali’…he..he….

Ya, benar, itu memang bentuk tanggungjawab social sebuah industri yang diatur dalam Pasal 74 UU No.40 Tahun 2007 tentang PT, yang ternyata ada sebutannnya, CSR (Corpotare Social Responsibilty). Perhatikan iklan yang bagus ketika Idul Fitri, pasti dari rokok, dan mereka bebas mau tayang jam berpa aja, padahal ada aturan (PP. No.19 Tahun 2003), iklan rokok hanya boleh tayang pukul 21.00-05.00. namun, karena dibungkus CSR itu tadi, jadi free. Padahal tujuan utamanya, semulia apapun pesannya, tetap aja cuma ada satu pesan “ayo, merokok”. Karena ga’ mungkin kan, secara terang-terangan perusahaan rokok memakai slogan “isaplah satu pak sehari, maka jantungmu akan sehat”. Karena rokok itu memang tidak ada bagus-bagusnya, dia memiliki 4000 zat beracun mematikan (Tempo, 27 Nopember 2008).

Tapi, kenapa reaksi zat-zat di rokok terhadap tubuh si perokok sangat lambat kerjanya?? Padahal isinya racun, iya mereka bakal penyakitan, tapi nanti di usia 60 tahun. Mungkin itu bikin mereka ga’ kapok. Katanya “merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker, impotensi dll” tapi kenyataannya mereka ga’ impoten, coba seminggu ngrokok terus begitu, pasti kapok.

Merokok itu sama saja kita bikin kaya bos-bos rokok itu .Coba dicek, siapa orang-orang terkaya di Indonesia, pasti salah dua-nya dari perusahaan rokok. Yang aku pengen tau, apa bos-bos itu merokok??? Apakah anak-anaknya dibiarkan merokok?? Jangan-jangan Anda semua tertipu, sudah kaya sehat lagi. Mereka meracuni orang lain, tapi diri dan keluarganya engga’?? kalau benar…AMBOI…BINTANG KEJORA (seperti ungkapan Ketua Karmun di MK), hebat nian bos-bos ini. Dan anda semua, tertipu.

Indonesia menjadi negara penggguna rokok terbesar ketiga di dunia di bawah Cina dan India (data WHO 2008 dalam Tempo 18 Nopember 2008). Artinya lebih dari 60 juta penduduk Indonesia adalah perokok. Adapun kematian akibat adiksi nikotin mencapai 1.172 jiwa/hari atau lebih dari 400 ribu orang per tahun. Ingat korban Tsunami di Aceh?? Ini jauh lebih besar saudara-saudara. Sedangkan di dunia, lebih dari 5 juta jiwa. Angka itu melebihi kematian karena AIDS, TBC, dan malaria.
Selain itu, sepertinya salah data yang menyebutkan kita ini negara miskin. Hasil survey Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) 2005 merilis, orang miskin mengeluarkan Rp 113 ribu per bulan, lebih besar dibanding BLT yang Rp 100 ribu. Dan sekitar 12, 43 % untuk beli rokok. Biaya ini 15 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk membeli daging, 8 kali lipat dari biaya pendidikan, dan 6 kali lebih besar dibanding biaya kesehatan. Misalnya lagi, sehari Rp 10 ribu, sebulan Rp 300 ribu, setahun Rp 3,6 juta hanya untuk rokok. WOW…

Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (FCTC). Sebenarnya, Indonesia sudah akan berangkat dalam konvensi tersebut, namun oleh pemerintah Megawati dibatalkan…tapi, dia malah menghadiri peresmian pabrik baru Philip Morris di Pacitan. ANEH SANGAT. Perusahaan rokok sendiri makin membabi buta, anak-anak dan perempuan telah menjadi sasaran pemasaran (Tempo, 18 Nopember 2008). Makanya, FCTC harus segera ditetapkan, menurut Abdillah (peneliti LDUI), salah satu implementasinya cukai naik, yang berujung pada pembatasan penggunaan tembakau. Bukan kya’ sekarang yang industri rokok “illegal”, yang ga’ ad amereknya, yang dijual ke luar Jawa, tumbuh bak jamur di musim hujan. Pemda pasti tau, tapi karena mereka dapat duit akhirnya dibiarin, kacau…..
Janganlah kemudian muncul opini “kalau perusahaan rokok ditutup, berapa juta pengangguran di Indonesia”, itu alasan primitif, kenapa? Karena ujung-ujungnya duit, analoginya akan sama dengan pengemis, PSK, pencuri, perampok, karena untuk nyari duit, maka kemudian rasionalisasi itu dihalalkan, sah, wajar, normal.

Masih ga’ pengen berhenti merokok?
Free Tobacco Kids

5 Comments »

  1. yuu.. ikutan IBSN Blog Award di cantigi.. ^_^

    dewisang,
    ayo…sek aku sek mempelajari….

    Comment by cantigi™ — December 17, 2008 @ 8:18 pm

  2. heheheh
    dari jaman dulu manusia memang selalu menciptakan masalah sendiri
    dan tidak bisa dielakkan

    coba hawa ngga makan apel, ngga menderita deh
    coba rokok tidak ditemukan, ngga ada yang ngerokok deh
    coba mobil ngga dikembangkan, ngga ada macet deh
    coba kondom ngga dibuat, ngga ada free sex deh
    coba…. coba …coba…

    yang kasian memang yang miskin
    tambah miskin krn berusaha melupakan kemiskinannya dgn cara salah
    rokok = penghilang stress
    beli rokok duit abis = tambah stress

    itu namanya LINGKARAN SETAN
    dan manusia tidak akan pernah terlepas dari situ

    EM

    dewisang,
    bukan, bukan karena penemuannya, klo sudah terlanjur seperti sekarang, harus ada upaya untuk meminimalisir, biar kita makin kreatif. kaya’ sampah, juga, klau kita mikirnya krn penemuan, kita ga’ makan dong, karena nyampah….tinggal usaha kita untuk ikut mendukung program2 utk menyelamatkan bumi ini…

    Comment by Ikkyu_san — December 18, 2008 @ 1:36 am

  3. hai wi, kabar baik kan, oh ya ngomongin masalah rokok itu seperti dua sisi mata uang antara suatu korporasi industri satu sisi dan masalah kesehatan di sisi lainnya perdebatannya gak akan putus biar di omongin sampai 3 x puasa 3 x lebaran (kayak bang thoyib)dari aku sendiri yang pernah kecanduan rokok dan pernah di rawat karena radang paru akut (tapi sekarang sdh bersih)150 persen setuju jika industri rokok ini di hentikan atau kalo MUI bilang merokok hukumnya Haram (fatwanya mau keluar)dengan banyak kasus yg kamu contohkan di atas setuju jika rokok lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, namun berandai andai jika aku sebagai corporate communicationnya industri rokok jelas hal sebaliknya yg harus di publikasikan ambil contoh sampoerna,setelah di akuisisi philips morris dgn investasi sekitar 40 triliun,bayangkan gimana sibuknya pemerintah melindungi kepentingan investasi industri raksasa AS tsb,belum lagi dari pajak cukai rokok yg jumlahnya hampir sama dgn pajak perorangan seluruh republik ini, masih kurang tenaga kerja yg di serap oleh sampoerna aja mencapai sekitar 10 rb orang nah itu kalo rata2 satu pegawai punya 1 istri/suami + 2 orang anak aja berarti sdh 30 ribu an orang hidup dari sampoerna, kalo di gabung dgn gudang garam,djarum,bentoel dll industri rokok yg lebih kecil mungkin jumlahnya jutaan orang yg bergantung dgn “industri racun” ini, belum lagi para petani tembakau,cengkih, penjual rokok dst. tentu ekonomi yg bergerak jauh lebih besar di banding “cuma” 400 rb perokok apes yg mati selama setahun tsb,jadi dari industri ini dgn mencantumkan pesan “merokok dpt menyebabkan kanker dan gangguan janin pada kehamilan” dosanya sudah “impas” di tambah gerakan sosial yg mereka lakukan untuk kebaikan lingkungan hidup,itu sudah nilai plus buat mereka,dan CSR nya itu yg kita bidik biar dia mau mengeluarkan uang untuk beriklan di mediaku he..he dan sependek yang saya tahu mas wicak (wartawan tempo)itu perokok wi he..he
    maaf kalu kurang berkenan

    Comment by djalal — December 19, 2008 @ 3:16 pm

  4. kita tetep mendukung program2 CSR nya perusahaan rokok, tapi kita juga harus tetap kritis terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh rokok!segala lenudharatan yang ditimbulkan rokok emang nggak bakalan termaafkan dengan CSRnya…menurutku rokok itu selain mendzolimi orang lain jiga mendzolimi diri sendiri…dan dzolim itu haram….”kadang kamu menyukai sesuatu tapi sesuatu itu tidak baik bagimu, kadang kamu benci kepada sesuatu, tapi sesuatu itu baik bagimu”

    dewisang,
    CSR itu duitnya juga dari perokok, jadi wis mending ga’ sama sekali.

    Comment by Fathy Farhat khan — December 31, 2008 @ 11:54 am

  5. bu guru,hati2 kemakan omongan sendiri. tereak2 anti rokok ternyata nanti makan,beli baju,beli sepatu dari gaji suami yg jadi pegawai pabrik rokok. pendidikan jg disubsidi cukai rokok tmasuk gaji guru. idealis boleh, tp kalo tdk konsisten sama sj jadi manusia abu2.

    dewisang,
    ya wis, rokok halal, silahkan merokok sepuasnya. Apple itu buatan mana? konsisten ato ga’ ya..peralatan elektronik di rumah juga coba dicek, sepatu, buatan mana? katanya anti barat, berarti kita semua abu-abu..sama kan?yang penting niat lah, klo kenyataan suamiku kerja di rokok, tapi bentar lagi buka usaha sendiri kok, tenang aja, mumpung Ramadhan jadi bantu doa ya..klo ga’ usaha sendiri ga’ bisa beli CR-V atau fortuner…biar ke skul bawa CR-V keren kan….

    Comment by numpang lewat — August 16, 2009 @ 8:37 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: